Tampilkan postingan dengan label --- Sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label --- Sakinah. Tampilkan semua postingan

Pecel Lele untuk Istri

Senin, 04 Februari 2013

memories @pantai kuwaru, 3 hari pasca akad nikah
Islamedia - Suatu hari ada seorang lelaki, yang ikut antri di warung pecel lele didaerah Monjali. Mendung bergantung sore itu, dan warna hitam yang menyeruak d ibarat mulai bergerak mendekat. Dia, berkaos putih yang leherannya mulai geripis, dikepalanya ada pecis putih yang kecil, dan celananya beberapa senti diatas mata kaki. Sandal jepit swallow yang talinya hampir putus nyangkut diantara jempol dan jari kakinya. Seperti yang lain ia juga memesan,

”Pecel Lele, Mas!”

JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT

Minggu, 03 Februari 2013


Islamedia - Suatu hari seorang suami pulang kerja dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah. Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur. Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian

Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh. Ternyata … kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana.
Kertas-kertas bungkus dan plastik bertebaran tidak karuan, dan… pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah… masyaAllah… kacau… berantakan. Ada lampu yang pecah, ada sajjadah yang tertempel dengan permen karet di dinding. Televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal. Boneka bertebaran di mana-mana. Pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Apakah Istri Anda Cerewet? Itu Normal

Rabu, 09 Januari 2013

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menemukan banyak suami yang heran dengan sikap dan perilaku isterinya. Menurut para suami, isteri mereka terlalu banyak bicara. Ungkapan seperti ini sering didengar oleh para konselor keluarga:

“Isteri saya itu orangnya aneh banget. Maunya ngomong terus, hal-hal yang tidak penting saja diomongkan”, kata seorang suami.
“Isteri saya itu orangnya sangat cerewet. Semua dikomentari, seakan tidak ada hal yang benar dari diri saya”, kata suami yang lain.
“Saya heran, apa tidak sebaiknya dia itu diam saja, tidak usah banyak bicara”, ujar suami yang lain.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Toko Untuk Mencari Istri

Senin, 14 Mei 2012


Suatu ketika, dibuka sebuah toko yang menyediakan istri, di sana seorang pria dapat memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri.

Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk, terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut : "Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI!"

Dibalik Ketegaran Seorang Lelaki

Selasa, 01 Mei 2012


Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Ummi-nya.

Lalu bagaimana dengan Abah?

Mungkin karena Ummi lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Abah-lah yang mengingatkan Ummi untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ummi-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Abah bekerja dan dengan wajah lelah Abah selalu menanyakan pada Ummi tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Berdamailah dengan Permasalahan Berulang dalam Keluarga

Selasa, 17 April 2012


“Saya bosan dengan permasalahan keluarga, karena sangat sering muncul masalah yang berulang. Dulu pernah kami selesaikan, dan ternyata sekarang muncul lagi”, kata Novi, seorang ibu rumah tangga.
Begitulah sifat persoalan keluarga. Ada sangat banyak permasalahan kecil dan renik, dan sering terjadi secara berulang. Hal ini karena corak interaksi dalam kehidupan keluarga yang unik dan spesifik, sangat berbeda dengan “orang kantoran” yang bekerja dengan sebuah standar operasional tertentu, pada waktu tertentu. Sementara di rumah, sangat banyak jenis urusan, dari yang sangat renik hingga urusan yang sangat penting dan strategis, dengan waktu yang tak terbatas.

Yusuf Qordhowi: Hubungan Antara Orang Tua Dan Anak

Rabu, 19 Oktober 2011

Oleh Syaikh Yusuf Qardhawi

Islam Memelihara Nasab
Anak adalah rahasia orang tua dan pemegang keistimewaannya. Waktu orang tua masih hidup, anak sebagai penenang, dan sewaktu ia pulang ke rahmatullah, anak sebagai pelanjut dan lambang keabadian. Anak mewarisi tanda-tanda kesamaan orang tua, termasuk juga ciri-ciri khas, baik maupun buruk, tinggi maupun rendah. Dia adalah belahan jantungnya dan potongan dari hatinya. Justru itu Allah mengharamkan zina dan mewajibkan kawin, demi melindungi nasab, sehingga air tidak tercampur, anak bisa dikenal siapa ayahnya dan ayah pun dapat dikenal siapa anaknya.
Dengan perkawinan, seorang isteri menjadi hak milik khusus suami dan dia dilarang berkhianat kepada suami, atau menyiram tanamannya dengan air orang lain. Oleh karena itu setiap anak yang dilahirkan dari tempat tidur suami, mutlak menjadi anak suami itu, tanpa memerlukan pengakuan atau pengumuman dari seorang ayah; atau pengakuan dari seorang ibu, sebab setiap anak adalah milik yang seranjang. Begitulah menurut apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w.

Mutiara Untuk Wanita

Mutiara 1
“Hushain bin Muhshan menuturkan bahwa bibinya pernah datang kepada Rasulullah SAW untuk suatu keperluan. Setelah selesai dari keperluannya Rasulullah SAW bertanya kepadanya “Apakah engkau bersuami?” Ia menjawab “Ya”, “Bagaimana engkau bersuami?” Ia menjawab “Aku berusaha sekuat tenaga untuk melayaninya dan mentaatinya, kecuali dalam hal-hal yang aku tidak sanggup. “Beliau berkomentar,” “Perhatikan baik-baik sikapmu kepadanya karena sesungguhnya ia adalah syurga dan nerakamu.” (HR Hakim)
Mutiara 2
“Apabila seorang wanita telah menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan, senantiasa mentaati suaminya dan menjaga kemaluannya, niscaya akan dikatakan kepadanya, masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.” (HR Ahmad)
Mutiara 3
“Ada tiga golongan yang shalatnya tidak diterima dan kebaikannya tidak diangkat ke langit: Pertama,hamba sahaya yang kabur dari majikannya sampai ia kembali dan meminta maaf kepada majikannya. Kedua, seorang istri yang dimurkai suaminya sampai suaminya meridhainya dan ketiga seorang pemabuk sampai ia sadar” (HR Thabrani dan Ibnu Hibban)
http://sakinahonline.com

Sendal Jepit Istriku…

Kamis, 06 Oktober 2011


Kutemukan artikel ini dari temen kecilku... ini adalah kisah yg sudah populer di berbagai blog, moga2 para suami bisa mengambil hikmahnya. 

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.“Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

Anak dalam Al Qu’an dan As Sunnah (Dari Kelahiran hingga Menikahkan)

Selasa, 26 Juli 2011


Mukadimah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah dalam Kitab Fathul Qadir:

"يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم" بفعل ما أمركم به وترك ما نهاكم عنه "وأهليكم" بأمرهم بطاعة الله ونهيهم عن معاصيه

“Wahai Oang-orang yang beriman, peliharalah dirimu” maksudnya dengan melaksanakan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu dan meninggalkan apa-apa yang telah dilarang untukmu. “Dan keluargamu” maksudnya dengan memerintahkan mereka untuk tat kepada Allah dan mencegah mereka dari maksiat kepadaNya. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 7/257. Mawqi’ Ruh Al Islam)

DELAPAN KEBOHONGAN IBU DALAM HIDUPNYA

Sabtu, 16 Juli 2011

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah untuk anak-anaknya. Dengan tekad untuk tetap dapat menghidupi keluarga, ibu mencari nafkah dengan berjualan sayur yang dibelinya dari hasil kebun tetangga untuk dijual ke pasar.

Beberapa tetangga yang melihat kehidupan kami yang begitu susah, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi demi menjaga perasaan serta untuk mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anak-anaknya, ibu tidak mengindahkan nasehat mereka. Ibu berkata "Saya tidak butuh cinta." Inilah kebohongan ibu yang pertama. Acap kali ketika saat makan, ibu memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, "Makanlah nak, aku tidak lapar." Inilah kebohongan ibu yang kedua.

Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingannya, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anak-anaknya. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Melihat ibu seperti itu, dengan menggunakan sendok aku memberikan seluruh sisa ikan yang ada pada piringku kepada ibu. Tetapi dengan cepat ibu menolaknya,"makanlah nak, aku tidak suka makan ikan." Ini adalah kebohonganya yang ketiga.

Ketika aku masuk SMP, demi membiayai sekolahku dan kedua saudaraku, ibu sering sekali pergi ke koperasi sekolah. Dengan menjual anyaman rumbia ibu mendapatkan uang untuk kehidupan kami. Saat musim hujan tiba, aku sering terbangun dari tempat tidurku karena hawa dingin yang menyengat tubuhku. Kulihat ibu yang hanya bertumpu pada lampu tempel, tetapi dengan gigih melanjutkan pekerjaannya merajut rumbia. Aku berkata, "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus berjualan ke pasar." Ibu tersenyum dan berkata, "cepatlah tidur nak, aku tidak lelah." Inilah kebohongan ibu yang keempat.

Pada waktu ujian tiba, ibu memutuskan untuk tidak berjualan, supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di luar sekolah selama beberapa jam. Ketika lonceng tanda ujian berakhir berbunyi, ibu dengan segera menyambutku. Ia menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol dingin untukku. Teh yang begitu kental, tapi tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayangnya yang jauh lebih kental. Melihat ibu berbanjir peluh, aku segera memberikan gelasku kepada ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata, "minumlah nak, aku tidak haus!" Inilah kebohongan ibu yang kelima.

Setelah kami sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua, sudah waktunya berhenti bekerja. Ibu tidak mau. Ia rela untuk tetap pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu. Ia tetap bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata, "ibu masih punya uang." Inilah kebohongan ibu yang keenam.

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan kuliah S2. Aku memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu dengan gaji tinggi. Aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata, "aku tidak terbiasa tinggal di kota besar." Inilah kebohongan ibu yang ketujuh.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung dan harus dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu terlihat sangat tua, menatapku dengan penuh kerinduan. Aku melihat senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinangan air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, "jangan menangis anakku. Aku tidak apa-apa." Inilah kebohongan ibu yang kedelapan. Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Sebelum terlambat, luangkanlah waktu untuk mengucapkan, "terima kasih ibu." Ini akan sangat menentramkan hatinya. Meluangkan waktu untuk sekadar berbincang dengan mereka merupakan kesempatan yang akan menyenangkan hati mereka. Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah dan ibu kita dalam kesepian. Kita biasanya lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah, jika dibandingkan dengan teman dekat kita. Kita pastinya lebih peduli dengan teman dekat kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar teman dekat kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan keadaan orang tua kita? Apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Jika demikian, mari merenung dan mengubah perilaku kita kepada mereka. Mari memberikan yang terbaik.



oleh: Belly Lesmana 


Majalah Dinding LDK AMM

http://www.rumahzakat.org/?c=content&ins=13&pid=5937 

Guru baik, Ibu galak

Selasa, 15 Februari 2011

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang suami yang bercerita tentang perilaku istrinya.
Istrinya adalah seorang guru TK yang sangat disukai anak-anak.
Ia terkenal sabar dan telaten jika menghadapi anak-anak.
Sekalipun anak-anak nakal dan mengganggu sang istri sebagai guru TK
tetap bisa menghadapi mereka dengan senyum.

Akan tetapi itu tidak terjadi di rumah.
Setelah pulang ke rumah, istrinya sama sekali jauh dari wanita ramah.
Ia sering kali marah kepada anak-anaknya
yang juga masih kecil sebagaimana anak-anak TK di sekolah.
Jika anaknya nakal ia menegurnya kasar.
Jika anaknya mengganggu ia dengan kasar mengabaikan.
Memang sang istri tidak memukul anak-anaknya,
tapi sang suami melihat begitu jauh perilaku istrinya sebagai guru TK
di sekolah dan sebagai ibu di rumah.

Tak tahan melihat perilaku sang istri, akhirnya suami bertanya;

Mother is the best super hero in the world

Sabtu, 12 Februari 2011

Mumpung Ibu Masih ada, coba saat BELIAU tidur saat matanya terpejam kamu tatap wajahnya itu 5 menit saja, kamu akan tau bagaimana rasanya nanti bila wajah itu sudah tak ada di situ... 
Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya... 
LAKUKAN SEKARANG teman2ku sayang, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali... 

Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa ma TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum... 


Luv U all 

Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RUMAH SEMANGATKU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger