Anak dalam Al Qu’an dan As Sunnah (Dari Kelahiran hingga Menikahkan)

Selasa, 26 Juli 2011


Mukadimah

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah dalam Kitab Fathul Qadir:

"ูŠุง ุฃูŠู‡ุง ุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ู‚ูˆุง ุฃู†ูุณูƒู…" ุจูุนู„ ู…ุง ุฃู…ุฑูƒู… ุจู‡ ูˆุชุฑูƒ ู…ุง ู†ู‡ุงูƒู… ุนู†ู‡ "ูˆุฃู‡ู„ูŠูƒู…" ุจุฃู…ุฑู‡ู… ุจุทุงุนุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆู†ู‡ูŠู‡ู… ุนู† ู…ุนุงุตูŠู‡

“Wahai Oang-orang yang beriman, peliharalah dirimu” maksudnya dengan melaksanakan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu dan meninggalkan apa-apa yang telah dilarang untukmu. “Dan keluargamu” maksudnya dengan memerintahkan mereka untuk tat kepada Allah dan mencegah mereka dari maksiat kepadaNya. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 7/257. Mawqi’ Ruh Al Islam)

DELAPAN KEBOHONGAN IBU DALAM HIDUPNYA

Sabtu, 16 Juli 2011

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah untuk anak-anaknya. Dengan tekad untuk tetap dapat menghidupi keluarga, ibu mencari nafkah dengan berjualan sayur yang dibelinya dari hasil kebun tetangga untuk dijual ke pasar.

Beberapa tetangga yang melihat kehidupan kami yang begitu susah, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi demi menjaga perasaan serta untuk mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada anak-anaknya, ibu tidak mengindahkan nasehat mereka. Ibu berkata "Saya tidak butuh cinta." Inilah kebohongan ibu yang pertama. Acap kali ketika saat makan, ibu memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, "Makanlah nak, aku tidak lapar." Inilah kebohongan ibu yang kedua.

Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingannya, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anak-anaknya. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Melihat ibu seperti itu, dengan menggunakan sendok aku memberikan seluruh sisa ikan yang ada pada piringku kepada ibu. Tetapi dengan cepat ibu menolaknya,"makanlah nak, aku tidak suka makan ikan." Ini adalah kebohonganya yang ketiga.

Ketika aku masuk SMP, demi membiayai sekolahku dan kedua saudaraku, ibu sering sekali pergi ke koperasi sekolah. Dengan menjual anyaman rumbia ibu mendapatkan uang untuk kehidupan kami. Saat musim hujan tiba, aku sering terbangun dari tempat tidurku karena hawa dingin yang menyengat tubuhku. Kulihat ibu yang hanya bertumpu pada lampu tempel, tetapi dengan gigih melanjutkan pekerjaannya merajut rumbia. Aku berkata, "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus berjualan ke pasar." Ibu tersenyum dan berkata, "cepatlah tidur nak, aku tidak lelah." Inilah kebohongan ibu yang keempat.

Pada waktu ujian tiba, ibu memutuskan untuk tidak berjualan, supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di luar sekolah selama beberapa jam. Ketika lonceng tanda ujian berakhir berbunyi, ibu dengan segera menyambutku. Ia menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol dingin untukku. Teh yang begitu kental, tapi tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayangnya yang jauh lebih kental. Melihat ibu berbanjir peluh, aku segera memberikan gelasku kepada ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata, "minumlah nak, aku tidak haus!" Inilah kebohongan ibu yang kelima.

Setelah kami sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua, sudah waktunya berhenti bekerja. Ibu tidak mau. Ia rela untuk tetap pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur. Kakakku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu. Ia tetap bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata, "ibu masih punya uang." Inilah kebohongan ibu yang keenam.

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan kuliah S2. Aku memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu dengan gaji tinggi. Aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata, "aku tidak terbiasa tinggal di kota besar." Inilah kebohongan ibu yang ketujuh.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung dan harus dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu terlihat sangat tua, menatapku dengan penuh kerinduan. Aku melihat senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinangan air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, "jangan menangis anakku. Aku tidak apa-apa." Inilah kebohongan ibu yang kedelapan. Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Sebelum terlambat, luangkanlah waktu untuk mengucapkan, "terima kasih ibu." Ini akan sangat menentramkan hatinya. Meluangkan waktu untuk sekadar berbincang dengan mereka merupakan kesempatan yang akan menyenangkan hati mereka. Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah dan ibu kita dalam kesepian. Kita biasanya lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah, jika dibandingkan dengan teman dekat kita. Kita pastinya lebih peduli dengan teman dekat kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar teman dekat kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan keadaan orang tua kita? Apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum? Jika demikian, mari merenung dan mengubah perilaku kita kepada mereka. Mari memberikan yang terbaik.



oleh: Belly Lesmana 


Majalah Dinding LDK AMM

http://www.rumahzakat.org/?c=content&ins=13&pid=5937 

Dipermalukan Pengemis

Senin, 06 Juni 2011

Seorang pengemis datang mengiba pada seorang kaya
"Pak minta uang, Pak"
"Saya tidak punya uang kecil!," sanggah si kaya.
"Uang besar juga boleh Pak"
"Saya tidak punya uang ," ujar si kaya kesal
"Kalau gitu saya minta makan, Pak"
"Saya juga tidak punya makanan'" jawab si kaya gusar.
Kali ini suara pengemis berubah penuh percaya diri.
"Pak ikut saya yuk!"
"Kemana?" tanya si kaya heran
"Kita ngemis bareng, Pak. Nanti saya ajari. Bapak kan gak punya uang dan gak punya makan, saya kasihan sama bapak. Saya saja uang kecil sih masih ada. Nanti saya beli makanan buat Bapak!"
???

Akibat Arogan

Minggu, 05 Juni 2011

Berikut ini adalah potongan percakapan radio yang sangat krusial antara komandan kapal perang Amerika dan otoritas Rusia.

Otoritas Rusia: “Segera belokan kapal Anda 10 derajat ke timur untuk menghindari tabrakan."
Komando Amerika: “Kenapa tidak Anda saja yang membelok!”
Otoritas Rusia: “Demi kebaikan Anda, sebaiknya segera membelok 10 derajat ke timur untuk menghindari tabrakan!”
Komandan Kapal Amerika: “Saya kapten US Navy. Saya tegaskan Anda yang harus belok !!!!”
Otoritas Rusia: “Tidak bisa. Saya peringatkan sekali lagi, belokkan kapal Anda. Sekarang juga!!!”
Komandan Kapal Amerika: “Ini adalah Aircraft Carrier USS, salah satu kapal terbesar di dunia dari Armada Atlantik. Kami dilengkapi tiga destroyer, tiga cruiser dan sejumlah kapal pendukung. Saya perintahkan Anda belok 10 derajat ke timur. Sekali lagi saya ulangi 10 derajat ke timur, atau sebuah tindakan keras akan dilakukan untuk mengamankan kapal Anda!”
Rusia: “Bodoh! Ini mercusuar, tahu!!!
Brak, kapalpun menabrak daratan.

Membangun negara dengan prinsip "Jangan malu, jangan gengsi"

Selasa, 15 Februari 2011

moscow-rusia
Tidak seperti Eropa umumnya, Rusia pada tahun 1689 merupakan negara yang terbelakang dari semua segi. Jumlah kota sedikit, perbudakan meraja lela, pendetanya bodoh, tidak ada literatur, matematika dan ilmu pengetahuan diabaikan, dan tidak tersentuh renaisans maupun reformasi.
Peter Yang Agung (1672-1725) adalah Tsar Rusia terkemuka yang berhasil mengubah kekaisaran Rusia menjadi negeri yang kuat.

Apa yang membuat Peter Yang Agung sukses membangun kekaisaran Rusia?
Karena ia mengabaikan rasa malu dan gengsi.

Guru baik, Ibu galak

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang suami yang bercerita tentang perilaku istrinya.
Istrinya adalah seorang guru TK yang sangat disukai anak-anak.
Ia terkenal sabar dan telaten jika menghadapi anak-anak.
Sekalipun anak-anak nakal dan mengganggu sang istri sebagai guru TK
tetap bisa menghadapi mereka dengan senyum.

Akan tetapi itu tidak terjadi di rumah.
Setelah pulang ke rumah, istrinya sama sekali jauh dari wanita ramah.
Ia sering kali marah kepada anak-anaknya
yang juga masih kecil sebagaimana anak-anak TK di sekolah.
Jika anaknya nakal ia menegurnya kasar.
Jika anaknya mengganggu ia dengan kasar mengabaikan.
Memang sang istri tidak memukul anak-anaknya,
tapi sang suami melihat begitu jauh perilaku istrinya sebagai guru TK
di sekolah dan sebagai ibu di rumah.

Tak tahan melihat perilaku sang istri, akhirnya suami bertanya;

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?

Sabtu, 12 Februari 2011

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Mother is the best super hero in the world

Mumpung Ibu Masih ada, coba saat BELIAU tidur saat matanya terpejam kamu tatap wajahnya itu 5 menit saja, kamu akan tau bagaimana rasanya nanti bila wajah itu sudah tak ada di situ... 
Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya... 
LAKUKAN SEKARANG teman2ku sayang, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali... 

Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa ma TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum... 


Luv U all 

Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya...

Sudahkan Anda membuat target yang jelas untuk tahun ini?

Senin, 24 Januari 2011

Artikel ini pernah dikirim tepat beberapa tahun baru lalu, dan tetap saja kontekstual untuk renungan tahun ini.
Saya yakin banyak di antara kita yang sudah mempunyai target atau keinginan untuk dicapai di tahun ini?
Tapi apakah kita sudah membuat target atau rencana tertulis?
Kalau cuma sekedar "Saya ingin tahun ini, lebih baik" wah, maaf itu "OMONG KOSONG"
Kita harus membuat rencara tertulis dan detail, jadi harus di tulis! tulis! dan tulis!

Jika ingin ada perubahan yang monumental, maka kita harus memulai dengan langkah di antaranya :

Dendam Positif : Kamu tidak boleh minum!

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an.
Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering.
Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.
Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan:

"Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur"

Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.
Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.
Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar.
Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran,
tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat ini masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RUMAH SEMANGATKU - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger